“MILKRUN” Delivery System

Pada tahun 2004 dan sebelumnya perusahaan manufacturing pada umumnya dalah hal pengiriman / supply barang masih banyak menganut cara direct delivery, artinya para vendor atau supplier mengirimkan produk produknya ke pihak konsumen secara langsung, menggunakan armadanya sendiri ke costumernya masing masing.

Baru di awal tahun 2004, PT. TOYOTA MOTOR MANUFACTURING INDONESIA (TMMIN) mengadaptasi sebuah konsep baru (dikala itu) dalam hal sistem pengiriman produk spare part dari para supplier / vendor vendor nya. (lihat perbandingannya pada gambar di bawah ini)

perbandingan model pengiriman Direct Delivery-Milkrun Delivery

Metode itu di kenal dengan nama “MILKRUN”

Kata Milkrun sendiri mengacu pada kisah abad ke 19 di dataran Eropa mengenai para penjual susu.

Saat itu para penjual susu sapi berkeliling desa membawa susu susu segar di dalam botol untuk dikirim secara “door to door” ke setiap rumah yang menjadi pelanggannya. Setiap kali si penjual susu tiba di muka rumah pelanggannya, ia akan mengambil botol susu kosong yang ada didepan pintu yang telah disiapkan sebelumnya dan menggantinya dengan botol susu yang berisi susu segar dari peternakannya.

Hal ini rutin dilakukan oleh sang penjual susu dari hari ke harinya dengan waktu yang relatif sama setiap harinya.

 

Kembali ke  metode pengiriman tadi, begitu juga dengan pengiriman barang dengan sistem milkrun,disana akan terjadi proses “pertukaran” antara yang isi dan yang kosong.

Tapi inti dari milkrun sendiri adalah adalah menggabungkan 2 pengiriman atau lebih dari 2 supplier atau lebih dalam satu kali pengambilan/pick up dalam 1 rute. Selain itu dengan konsep milkrun, costumer lebih cenderung “menjemput bola” ke supplier, dibandingkan bila  hanya menunggu kiriman langsung dari supplier.

Beberapa hal pokok dalam metode Milkrun ini adalah :

–          Waktu dan jadwal pick up telah ditentukan secara fixed.

–          Volume dan cycle issue juga telah ditetapkan.

–          Sequence atau urutan pengambilan barang dari satu supplier ke supplier lainnya telah dibakukan,namun tetap dievaluasi implementasinya.

–          Lamanya proses loading unloading muatan juga telah disetting.

–          Lama perjalanan dari satu titik pick up ke titik pick up yang lainnya juga telah di tetapkan.

–          Ketepatan waktu menjadi hal penting dalam metode ini selain faktor keamanan pengiriman.

Beberapa data dan tools yang biasa digunakan dalam menyusun rencan delivery dalam metode milkrun adalah :

–          Data Rencana Produksi, untuk menentukan kubikasi dan cycle issue yang akan digunakan.

–          Route Matriks, digunakan sebagai acuan dalam estimasi perencaan waktu tempuh /perjalanan.

–          Supplier Manifest, sebagai dokumen transaksional antara  costumer dan supplier

–          Kanban, Identitas barang pada box

–          Skid Label, Identitas barang dalam satuan skid atau palet.

–          Timeline, urutan proses pickup berdasarkan volume, jarak tempuh, lokasi dsb.

–          KPI (Key Performance Indicator), sebagai tools evaluasi kinerja metode pengiriman milkrun ini.

Dibawah ini beberapa perbandingan dasar Kelebihan dan Kelemahan sistem Milkrun rsebut.

PlusMinus MR

Ke depannya akan saya coba bahas lagi tahapan tahapan dalam menyusun Route Planning dalam Sistem Milkrun ini.

 

2 thoughts on ““MILKRUN” Delivery System

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s